Exclusive Archives | mod-o
mod-o adalah media digital yang berisi streaming musik Indonesia pilihan, informasi dan berita musik Indonesia, review konser musik, dan playlist musik Indonesia terbaik.
Musik Indonesia, Indonesian Music, Curated Music, Berita Musik, Dengar Lagu Indonesia, Streaming musik indonesia, Musik Pilihan, Musik Indonesia Terbaik, Musik Indie, Indie Lokal, informasi musik indonesia, Berita Musik,
992
archive,category,category-exclusive,category-992,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-4.1,vertical_menu_enabled,side_area_uncovered,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

Exclusive

Exclusive: Dekat

Dua tahun sudah Dekat resmi terbentuk, menurut pendapat kalian, bagaimana sejauh ini sambutan atau feedback dari music enthusiasts?

Feedback nya menarik. Yang sampai ke telinga kita kebanyakan positif. Yang kita suka, kebanyakan dari pendengar kita sekarang itu orang orang yang baru kenal kita 2 tahun belakangan ini, gak tau dulu kita pernah ngeband apa.

Mimpi atau visi besar apa yang kalian bawa lewat Dekat?

Kita cuma pengen happy. Mau main musik sesuai keinginan, cerita pengalaman hidup ke pendengar lewat lagu, dan mudah-mudahan bisa hidup dari sini

Dekat bukanlah Tangga dan begitu juga sebaliknya, Tangga bukanlah Dekat. Dah gitu aja~

Hahaa begitulah.

Tiap personil Dekat pasti punya preferensi musiknya masing-masing, boleh dishare influence tiap personil Dekat dalam bermusik?

Kamga besar dengerin black music, baru mulai dengerin pop beberapa tahun belakangan, and seems to really enjoy it. Dari Jill Scott ke Selena Gomez itu perlu leap of faith. Hahaa. Chevrina dengerin pop dari kecil. Prinsip dia, gak peduli genre nya apa, asal enak gw suka. Tata besar dengerin musik Rock. Gila sama Limpbizkit dan Oasis di masa muda nya. Sekarang berkutat di hip hop modern. Selera musik nya paling indie diantara bertiga.

Lirik lagu dan musik yang Dekat bawakan bisa dibilang sangat ekspresif. Sebenarnya apa yang ingin kalian ekspresikan lewat Dekat ini?
Kita gak banyak mikir pas nulis lirik atau lagu. Kita mau berekspresi, bukan berpikir. Lirik lirik di Lahir Kembali EP terasa marah karena memang state kita bertiga di tahun 2014 sedang disitu. Meranggas EP liriknya lebih santai karena mungkin marah marahnya sudah lewat. Gak menutup kemungkinan album selanjutnya lagu nya happy semua. Kita ingin sejujur mungkin sama keadaan kita dan apa yang kita resahkan saat pembuatan lagu atau album.

Menurut pandangan kalian, sejauh ini bagaimana perkembangan scene musik independent di Indonesia?

Perkembangannya sangat baik. Banyak penyanyi dan band indie yang bahkan merajai chart radio. Apabila perkembangannya terus seperti ini, bukan tidak mungkin dalam 5 tahun kedepan kita sudah tidak terlalu mempermasalahkan lagi terminologi indie dan mainstream.

Kalian termasuk salah satu group vokal yang solid, kalau di luar urusan kerjaan, apakah Dekat sedekat ini?

Memang dekat sih. Sering main bareng dan (sering banget) nonton bareng. Kita bertiga gila film.

3 kata yang mendeskripsikan Dekat?

Kami sedang Meranggas

Thanks for the interview! Any last words untuk music enthusiasts?

Halo Music Enthusiasts, silahkan cek mini album terbaru kami berjudul Meranggas. Paling gampang cek di Youtube. Bisa beli di itunes atau beli fisiknya di kita. Follow social media kt @musikdekat (instagram/twitter) untuk info panggung, cd, merchandise dll. Sampai bertemu di gigs secepatnya!

Exclusive: Souljah

Hai Souljah! Boleh diceritain bagaimana pertama kali group ini terbentuk?
Kita terbentuk di tahun 1998 waktu masih kuliah di komunikasi Universitas Indonesia. Sambil menunggu waktu kuliah iseng-iseng bikin band untuk membuang kebosanan tadinya, lalu lama lama jadi serius dan akhirnya 2005 kita ganti nama jadi SOULJAH karena nama yang lama gak cocok sama perkembangan kita sebagai band waktu itu.

Apa sih yang membuat kalian tertarik dengan genre “Jamaican Music”?
Kita suka dan tertarik dengan musik ini karena yang dikedepankan Jamaican music adalah kekompakan secara grup bukan individual. Lalu musik ini selalu membawa kita larut bukan dalam kesedihan tapi kesenangan yang tidak kita dapat di musik lain.  Jamaican music ini juga membuat kita tidak pernah lelah untuk membawakannya selama puluhan tahun.

Souljah terkenal dengan lagu yang easy listening, fun, dan dekat dengan keseharian music enthusiast. Sebenarnya apa aja pesan yang ingin Souljah sampaikan lewat musik?
Kalau secara lirik sih banyak. Kita kasih tema macem-macem dari cinta sampai ke-Tuhanan. Dari lirik yang fun sampai yang benar benar serius. Kalau secara bermusik kita mau menyampaikan pesan bahwa musik itu bukan cuma masalah jualan atau fame, musik itu masalah perjuangan dan perjuangan itu indah kalau kita bisa mencapainya walau berat dan perlu konsistensi dan konsentrasi tinggi.

Setelah malang melintang belasan tahun di dunia musik, tantangan terberat apa yang pernah kalian hadapi?
Tantangannya adalah gimana kasih musik yang selalu segar padahal kita udah punya 4 album dan telah bermusik bertahun  tahun.

Baru-baru ini kalian mengupload video klip lagu “Bilang I Love You”, boleh diceritain makna dan cerita dibalik pembuatan lagu itu?
Kita bikin klip disesuaikan sama tema lagunya aja. Karena Bilang I love you lagunya sederhana maka kita bikin klipnya ya cuma di studio background putih dan gak ada pernah pernik apapun juga selain kita having fun di lagu itu. Tapi jangan tertipu kita masukin unsur yang rumit sebenernya di video itu. Karena kita maunya klip itu warnanya sesuai bendera jamaica;hitam, kuning, hijau. Jadi kalian tidak akan liat warna lain selain itu di klip ini. sisanya BW. Coloringnya yang rumit

Di video klip itu kalian juga menyelipkan sebuah sketsa komedi yang menarik. Bagaimana ceritanya hingga kalian memutuskan untuk melakukan hal tersebut?
Kita mau kasih hiburan tambahan di setiap klip kita jadi gak cuma nonton klip dan udah itu doang. Kita mau ada hal lain yang semua penikmat musik bisa relate sama apa yang menjadi tema dari videonya. Kita brainstorming apa yang bisa dijadikan orang sebagai acuan hingga di valentine nanti lagu kita bisa membekas di pendengar kita. Ketemulah unsur sketsa dan tips how to say I love you. dan tips biar gak di tolak. Kurang lebih idenya sih itu.

Menurut kalian, sejauh ini bagaimana perkembangan scene musik bertemakan Jamaica di Indonesia? Dan apa aja harapan untuk kedepannya?
Sangat bagus. Minimal sekarang Reggae kan ada dimana mana sama SKA juga sudah mulai naik. Dan penikmatnya juga sudah mulai menggunakan atribut yang kita kasih yaitu bendera jamaica bukan merah kunih ijo ya. Lalu kita liat dimana mana sekarang tumbuh band ska,reggae baru dan juga gigsnya. Ini artinya mereka bukan jadi penikmat lagi tapi pelaku scene. Semoga sih kedepannya semakin banyak dan semakin beragam lagi band yang bisa berkecimpung di Jamaican Music.

Apa rencana jangka pendek dan jangka panjang untuk Souljah?

Kita mau bikin 17 video klip dari 17 lagu yang ada di album THIS IS SOULJAH. Sekarang sudah ada 4 video yang sudah kita bikin. MOVE ON, BILANG I LOVE YOU, JATAH MANTAN, ILL BE HOME. Tunggu lagi aja sisanya segera kita shoot. Jangka panjangnya kita mau rekaman di Jamaica. Mau dapetin rasa aslinya rekaman disana sama orang sama dengan produser orang sana mungkin. Kemaren kita di album ke 4 sudah ada 1 lagu yang diproduseri oleh Jason O’Bryan produser DUB PISTOL dari Inggris dan pengalaman itu seru buat kita.

Terima kasih banyak Souljah atas interviewnya, ada pesan untuk seluruh music enthusiasts?

STOP THINKING, START CREATING.

Exclusive: Yacko

Kebebasan berekspresi yang ditawarkan hip-hop menjadi pilihan bagi Yacko dalam berkarya, baca interview exclusive mod-o dengan Yacko yang juga berprofesi sebagai dosen di bawah.

Dari Yani Oktaviana menjadi Yacko, gimana tuh ceritanya?
Haha. Nama itu bukan muncul karena stage name. Gue tuh laki banget dari kecil. Nah waktu SD, temen gue ada yang bilang, lo ga cocok pake nama Yani, gue panggil Yacko aja ya. Akhirnya kebiasaan sampai sekarang.

Boleh diceritain sejarah seorang Yacko punya passion di dunia Rap? Apa yang membuat Rap menarik buat Yacko?
I am always passionate about music. Waktu pertama kali denger musik rap, langsung tertarik sama beatnya apa lagi yang suara bassnya menonjol. It’s like you wanna bounce everytime you hear it. Selain itu, you can express anything and write them down jadi liriknya.

Baru-baru ini Yacko merilis karya terbaru berjudul “THANG”, bisa diceritain lagu ini ceritanya tentang apa?
It’s about having the right and freedom to do anything we love without the fear of being judged or being labeled by the society. ‘THANG ‘diambil dari slang kata THING dari kalimat DO MY THING. Di era informasi sepeti ini orang banyak share informasi lewat social media, tapi kadang informasi yang dishare tidak lengkap atau tidak akurat, dari situ orang lain jadi menghakimi, judging what you do is wrong tanpa riset terlebih dahulu. Kita ga punya pandangan yang sama tentang sesuatu ga papa, tapi don’t judge people and give stereotype. What I do is what I do, what you do is what you do. We all have different identities, so we should celebrate diversity instead of judging each other.

Apa latar belakangnya Yacko membuat kompetisi artwork design untuk single “THANG” ini? Apakah Yacko juga punya kecintaan untuk dunia visual art?
Gue selalu suka dengan graffiti. Musik dan visual adalah sesuatu yang seharusnya saling mendukung. Music lets people creating visual on their own mind, and visual lets music has more emotions. Gue penasaran, seperti apa sih musik THANG ini divisualisasikan jadi cover digital rilis. Mangkanya gue bikin kompetisi itu.

Yacko bisa dibilang sudah lama berkecimpung di dunia musik. Dari perspektif Yacko, gimana perkembangan scene music lokal sejauh ini?
Skena indienya growing really fast. Bergerilya melalui youtube dan platform social media lain. Namun yang masih harus diperbaiki adalah sistim pengaturan lisensi dan royalty pemilik musik. Kepastian hukumnya mungkin sudah ada. Tapi di lapangan, masalah sosialisasinya dan pendistribusian royaltinya masi banyak yang tidak tau.

Tantangan apa yang paling berat buat Yacko sejauh ini dalam membawa genre musik Hip-hop?
Banyak yang bilang tantangannya adalah bagaimana membuat musik rap diterima oleh orang Indonesia, karena orang Indonesia terbiasa untuk menghafalkan lirik dan sing-a-long. Well, itu bisa juga disebut sebagai tantangan. Tapi, buat gue personally challenge terbesar adalah membuat orang dance or move when listening to my music dan rap. Selain itu tantangan terbesarnya lainnya adalah, gue pengen bisa buat atau mengadakan hiphop gig regular yang bisa memfasilitasi generasi-generasi baru untuk perform.

Selain jadi Rapper, Yacko juga seorang dosen kan, nah, apa yang membuat mengajar (menjadi dosen) itu menyenangkan buat seorang Yacko?
In hip hop I get to experience many things in the field, in teaching I get to share what I have experienced so far dan mengajar membuat gue untuk tidak berhenti untuk selalu belajar.

3 Kata untuk merepresentasikan seorang Yacko?
DOIN HER THANG

Any last words untuk music enthusiasts?
You don’t need other people to label your or legalize your thang, just do your thang, express yourself, keep making music, hustle your way in.

Thanks Yacko! Sukses selalu!

Exclusive: Abenk Alter

Sempat tergabung di sebuah band, kini Abenk Alter “lahir kembali” dan memantapkan diri sebagai penyanyi solo. Hal ini dibuktikan dengan album perdananya ‘Selamat Datang’ yang dirilis pada 2014.

Album yang berisi 10 lagu itu dikemas sangat menarik, karena sampul albumnya adalah hasil karya Abenk yang juga menekuni dunia seni rupa sebagai ilustrator.

Listen:
Exclusive: Abenk Alter

Sejak kapan lo tertarik dan yakin akan berkarir dalam dunia musik?

Dari dulu passion gw selalu berhubungan dengan seni dan kreativitas. Musik adalah salah satunya. Impian gw adalah menjadi seniman yang berkarir di industri kreatif dan hidup lewat karya.

Setiap perubahan pasti membutuhkan proses transisi. Bagaimana dengan Abenk Alter? Boleh cerita tentang proses transisi dari seorang anggota band menjadi solois?

Salah satu proses yang pasti dilewatin dan menurut gw paling penting adalah berusaha mengenal diri lebih baik, terutama refleksi apa yang sebenernya gw mau, suka, dan ingin capai.

Listen:Abenk Alter – Vivo IS me
Listen:
Abenk Alter – Lain Waktu
Listen:
Abenk Alter – Smile
Listen:
Abenk Alter – Indonesia Pusaka

Tantangan apa aja yang sejauh ini udah dirasain sebagai seorang penyanyi solo?

Cukup banyak tantangannya. Yang paling fundamental adalah tantangan yang berhubungan dengan diri sendiri, salah satunya seperti harus lebih rajin menjaga suara dan vitalitas, belajar mengenal dan mengamati kondisi industri, dan menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

Selain transisi dari band menjadi seorang solois, Abenk juga shifting dari yang sebelumnya musisi label menjadi musisi indie. Apa aja sih perbedaannya?

Salah satunya adalah karena indie, jadi semua relatif dikerjakan sendiri (bersama dukungan tim tentunya). Karena dikerjakan sendiri dan keterbatasan dana serta human resources, jadi harus bener-bener mempertimbangkan setiap langkah yang efektif dan efisien. Walaupun tidak menghasilkan sesuatu yang spektakuler, namun paling tidak spesifik.

Gimana dengan suasana saat manggung?

Chemistry saat tampil itu penting. Jadi saat manggung, kepada teman-teman yang lain gw selalu menekankan pentingnya bersenang-senang, dan ini bukan cuma panggung gw, tapi panggung mereka juga, jadi silakan “Manggung”. Gw tidak pernah ingin jadi penyanyi yang “solois banget” seperti mungkin beberapa teman-teman solois lainnya.

Bagaimana dengan respon band dan kerabat tentang keputusan Abenk untuk menjadi soloist?

Rata-rata mendukung dan suportif.

Sejauh ini menjadi soloist, hal baru apa aja yang dulu gak pernah didapat saat berada di dalam band?

Mengenal diri dan industri lebih jauh, ruang eksplorasi yang tidak terbatas, serta mengenal banyak musisi-musisi hebat yang juga berjuang dengan karyanya.

Gimana opini lo tentang perkembangan musik lokal di tanah air? Ada perbedaan gak dari segi scene musik sekarang dibanding waktu lo dulu di band?

Banyak banget perbedaannya. Sekarang musisi Indonesia “canggih-canggih”, tentunya seiring dengan keterbukaan media internet. Semakin maju. Buat gw pribadi jadi menumbuhkan rasa kompetitif yang positif.

Belum lama ini lo merilis single ketiga dari album “Selamat Datang” yang judulnya “Sekarang”. Boleh diceritain gimana proses terciptanya lagu ini?

Lagunya gw ciptain saat gw ulang tahun di tahun 2014. Setelah lagu itu jadi, gw memutuskan untuk memulai perjuangan menggapai mimpi gw yang lain. Menjadi “Solo Artist”. Sebulan kemudian secara resmi mengundurkan diri dari band gw saat itu, Soulvibe.

Kalo dari keseluruhan album, cerita apa yang pengin disampaikan di album pertama ini?

Dari sisi musik, kalo diperhatiin dari lagu pertama sampai terakhir sesuai urutan terasa perubahan arahnya. Menyampaikan proses shifting yang sedang gw lakukan. Secara konten gw mencoba untuk menyampaikan “rasa” yang positif baik dari pemilihan lirik maupun persepsi tema. Cape kalau galau-galau terus. Yang paling penting, album ini seperti jurnal pribadi gw.

Album pertama ini cukup terasa sisi personal dan emosi dalam liriknya. Apakah pengalaman pribadi lo banyak tertuang dalam album ini?

8 dari 10 track di album “Selamat Datang” ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, apa yang gw alami, dengar, dan lihat.

Lewat album ini, Abenk Alter pengen dikenal sebagai musisi yang kayak gimana?

Ngga terlalu fokus memikirkan mengenai sisi “Ingin dikenal”. Ingin berkarya lebih baik aja dan memberikan kontribusi positif lewat karya.

Siapa aja musisi yang punya influence besar dalam genre musik yang sekarang lo dalami?

Ngga ada satu genre yang gw dalami. Tapi kalau saat pengerjaan album Selamat Datang, gw lagi dengerin banget Chandra Darusman, Guruh Soekarno P, The Carpenters, Hall & Oates, John Lennon, dan Marvin Gaye.

Musisi pasti ingin menyampaikan pesan lewat karya mereka. Ada pesan apa yang pengin lo sampaikan ke music enthusiast?

Mungkin bukan pesan, tapi sebisa mungkin ingin menjaga karya-karya yang saya punya dan memberikan energi positif.

3 kata yang bisa mewakili Abenk Alter?

Eklektik, Seni, Kreativitas.

Exclusive: Sentimental Moods

Hi Sentimental Moods! Gimana kabarnya? Lagi sibuk apa sekarang nih?

Halo fren, iya sekarang kami sedang sibuk di studio, merekam materi-materi untuk album kedua.

Menurut Sentimetal Moods, ada perubahan ga di scene musik indie yang dulu dengan yang sekarang?

Wah, jauh-jauh berbeda. Dulu venue yang mau menampung skena indie sangat sedikit. Makanya skena era ‘90an misalnya, ya dengan mudah dilabeli sesuai venue yang bisa menampung mereka. Misal ‘jaman Poster’, dll

Sentimental Moods itu bisa dibilang punya banyak personil dan pastinya tiap personil punya background musik yang beda-beda. Gimana ceritanya bisa memilih SKA Instrumental sebagai “jalan hidup” kalian?

Yup betul, kami masing-masing memang punya background musikalitas serta kesukaan pada genre berbeda. Tapi kami semua sama-sama menyukai ska, walau berbeda ‘wave’ atau gaya ska-nya. Benang merah di ska inilah yang menyatukan kami.

Siapa aja musisi yang jadi role model kalian dalam bermusik?

Sejak awal saat menentukan diri serius di ska intrumental, maka nama Skatalites jadi ‘role model’ utama, minimal sebagai basic panutan dulu bagaimana ber-ska intrumental. Sesuai perkembangan, dengan semakin banyaknya influence yang masuk ke kami, maka muncul nama-nama lain. Seperti Tokyo Ska Paradise Orchestra, Dancing Mood, Santiago Downbeat, St Petersburg Ska-Jazz Review, New York Ska-Jazz Ensembele, dan masih banyak lagi.

Seberapa besar musik SKA di Indonesia menurut kalian?

Bila dibandingkan era akhir ‘90an, mungkin belum besar. Namun bila dibanding saat ska kembali jadi ‘underground’ (2002-2012), saat ini jauh lebih besar. Dan istimewanya, di saat ini ska yang muncul di skena Indonesia pun jauh lebih variatif ketimbang era ‘90an tersebut. Dulu hampir semua band melulu di ‘third-wave ska’, sedangkan kini mau cari ska dari wave pertama hingga terbaru, sudah ada band-nya di Indonesia. Lebih seru jadinya!

Ada rencana untuk merilis album baru setelah “Destinasi Empat” sukses merebut hati music enthusiast?

Pastinya doooong! Sekarang kami malah sudah mulai merekam materi-materi untuk album kedua tersebut. Rencananya kami akan merilis album mini dulu (EP) yang menampilkan empat ‘vokalis’ Sentimental Moods (tentu yang dimaksud para musisi horn section kami) sebagai para solois. Selain itu kami juga ingin memberi selintas gambaran warna musik kami sekarang, setelah sempat dua kali ditinggal personel (drumer dan perkusionis). EP ini rencana akan rilis di bulan November 2015 ini, disambung serangkaian tur. Sedangkan album penuhnya (LP) rencana akan dirilis di semester awal tahun depan (2016). Doain lancar ya!

Tantangan terberat apa yang sejauh ini pernah kalian alami selama berkarir di dunia musik?

Sejak terbentuk tahun 2009, Sentimental Moods seringkali bongkar pasang personel. Saking seringnya malah jadi biasa ditinggal serta dimasuki personel baru. Hingga mendapat formasi paling solid hingga akhirnya bisa merilis EP pertama, ikut beberapa kompilasi, dan tentu saja album pertama. Pengalaman-pengalaman tersebut lumayan membentuk karakter Sentimental Moods untuk menjadi band tahan banting, dan sangat menolong kami untuk cepat bertindak agar terus bisa aktif dan berkarya walau ditinggal drumer sekaligus pendiri juga otak di balik Sentimental Moods era 2009-2013.

3 kata yang bisa mewakili Sentimental Moods?

Ska, Kreatif, dan Megah

Boleh di share dong rencana jangka pendek dan jangka panjang kalian kedepannya bagaimana?

Jangka pendek, mungkin sama dengan jawaban no.6 di atas. Untuk jangka panjangnya, mungkin kami akan mendistribusikan karya-karya kami ke luar negri, secara kami sudah mulai membuat jaringan ke teman-teman skena ska di luar. Dan tentu saja segera mewujudkan undangan-undangan main di luar jawa dan luar negeri yang sebenarnya sudah banyak kami terima tapi belum terwujud karena banyak alasan, mulai dari masalah budget hingga teknis.

Any last words untuk music enthusiast?

Terus hargai musik-musik yang orisinal, dan jangan terkungkung satu jenis musik saja, karena dengan banyak mendengar musik berbagai genre (walau hanya sekadar tahu) bisa memperkaya diri kita sendiri.

Exclusive: HMGNC

Di antara arus hype musik indie-folk yang sedang mengalir deras di belantika musik indie Indonesia, Homogenic memutuskan untuk rebranding nama mereka menjadi HMGNC. Dari chemistry bermusik, mereka meng-upgrade musik elektronik to the new level.

Meet mod-o crush of the month, HMGNC.

Welcome back, HMGNC! Setelah vakum cukup lama, gimana rasanya kembali aktif dalam bermusik?

Merasa terlahir kembali. Hahaha… Sebenernya kita gak pernah vakum dari dapur rekaman sih, tapi dari panggung lebih tepatnya. Karena kebetulan Manda hamil lagi dan juga kita ga punya materi baru untuk dirilis.

Boleh diceritain ga perubahan apa aja yang terjadi dalam HMGNC selama masa vakum tersebut?

Selama vakum, Dina sama Dea justru lagi rajin-rajinnya DJ set. Selama masa itu kita berdua jadi sama selera musiknya, yang tadinya beda banget. Nah, di sini justru jadi awal mula clicknya dan pembuka kelancaran lahirnya lagu-lagu baru. Kalau dari segi pandangan justru kita makin mantap. Kita jadi nemuin bentuk-bentuk baru HMGNC, dari dj set, live pa, digital set sampai full band. Bahkan di sini juga kita jadi dapat ide untuk me-refresh nama kita jadi HMGNC dan mengganti semua akun social media kita menjadi nama itu.

Gimana dengan perubahan “scene music” yang terjadi menurut pandangan HMGNC?

Beda banget, ya. Emang bukan masa yang baik untuk musik elektronik, karena semua lagi ber-folky ria… hahahaha… Perbedaan selain dari segi scene, lebih ke industri sih. Sekarang sudah gak bisa lagi pake treatment lama yang dimanjakan oleh label. Sekarang semua dikerjain sendiri. Walau sekarang kita di bawah Papermoon Records, tapi ternyata personil juga harus ikut andil di management sampe promosi. Harus ikut mikir. Hahaha.

HMGNC bisa dikatakan comeback dengan merilis single pertama “Today And Forever” di bulan April lalu. Boleh diceritakan kisah di balik pembuatan dan pemilihan lagu tersebut?

Sebenernya lagu itu yang paling terakhir jadi, tapi paling mateng saat itu. Kenapa dipilih? Karena paling bisa menjembatani HMGNC baru dengan HMGNC lama aja. Dan judul lagunya cocok aja untuk menjadi single come back, sekarang dan selamanya. Jadi, sekarang dan selamanya kita gak akan berhenti bermusik gitu. Hehe.

Single kedua berjudul “Memories That Last a Dream”memiliki nuansa yang lebih mellow dibandingkan dengan single sebelumnya. Apakah ada cerita di balik lagu ini?

Trully love song. Terinspirasi dari kisah orang2 yang susah move on dari kisah masa lalunya. Lagu ini sudah mengalami proses perombakan sampai 8 kali. Kita pengin sebisa mungkin kena mood mellownya itu.

3 kata yang bisa mewakili album terbaru HMGNC?

Trippy Uplifting Soulectronic

Boleh di-share dong rencana jangka pendek dan jangka panjang HMGNC ke depannya bagaimana?

Jangka pendek ngeluarin remix EP ‘Memories That Last A Dream’ dan jangka panjangnya pembuatan EP di awal tahun 2016.

Any last words untuk music enthusiast?

Support the sidestream local music!

Sukses untuk album terbarunya HMGNC! Can’t wait to hear more good news from you guys!

Terima kasiih!!!

Exclusive: Mondo Gascaro

Di suasana haus-haus bulan puasa, Mondo Gascaro meluangkan waktunya untuk berbincang dengan mod-o tentang kesibukannya dalam merampungkan full-album solo perdananya.

Apa perbedaan ketika bermusik dalam band dan sekarang sebagai solois? Kendala teknisnya berbeda, ga?

Tidak jauh beda dengan waktu dulu di dalam band, cuma sekarang gw lebih bebas mengeksplorasi ide dan gagasan gw dalam bermusik. Lebih bebas, tapi hasil dan kualitas album menjadi tanggung jawab gue sendiri.

Kalo kendala teknis, waktu di band, kita sdh punya personil tetap dengan gaya bermain yang membentuk satu warna dan karakter band tersebut. Kalo sekarang, mungkin mencari orang yang pas untuk men-deliver ide gw sesuai dengan emosi dan suasana yang ingin gue sampaikan lewat musik. Atau akhirnya justru gue sendiri yang mainin.

Perasaan damai dan tenang menjadi benang merah yang mod-o rasakan sewaktu mendengar lagu-lagu yang udah dirilis seperti Saturday Light & Komorebi. Apakah perasaan itu juga yang lo rasakan saat memproduksi dua lagu tersebut?

 

Iya sih.
Gue memproduksi lagu-lagu itu setelah hampir 2 tahun keluar dari band dan mulai mengerjakan materi-materinya.

Sewaktu memproduksi musik sendiri, ada perasaan “lega” secara emosional. Jalanin dengan ritme gue sendiri. Pressure-nya berbeda dan gue lebih menikmati dan appreciate kebebasan gw sekarang.

Apa sih yang jadi ciri khas musik Mondo Gascaro?

Jujur kalo dari gw sendiri gw ga pernah mikirin untuk membuat ciri khas tertentu. Mungkin kebiasaan aja antara satu lagu dan lainnya yang gw lakuin secara nggak sadar. Jadi untuk ciri khas mungkin music enthusiast lah bisa menganalisa sendiri hehe

Influence Mondo dalam bermusik?

Banyak sih musik-musik yang gue dengerin, tapi mungkin yang bisa dijadikan influence itu The Beatles. Mungkin kalo secara musik ga terlalu signifikan, namun spiritnya kurang lebih seperti mereka.

Progress album saat ini dan kapan rilisnya?

Saat ini masi masih proses recording, hampir 50% lah. Kalo untuk rilis targetnya adalah tahun ini. Habis Lebaran sepertinya sudah bisa di-publish.

Selain memproduksi musik sendiri, Mondo juga dikenal sebagai pengisi scoring musik untuk film. Boleh diceritain pengalamannya sebagai music composer?

Mengisi musik untuk film tentu berbeda ya dengan bikin musik sendiri. Secara kebebasan musik juga terbatas karena harus sejalan dengan visual dan cerita filmnya agar emosi filmnya ter-deliver secara tepat kepada audience, dan yang pegang kendali tetap si sutradara. Seperti waktu ngerjain untuk soundtrack Arisan 2, lagu “Oh Jakarta“. Itu musiknya gw yang compose dan liriknya dibuat sendiri oleh Nia Dinata, tadinya bukan gw yang nyanyi tapi dia maunya gw yang nyanyi haha

Jepang juga salah satu target distribusi album Mondo yang akan datang. Gimana proses marketingnya?

Untuk marketing dan distribusi album, Ivy League  udah beberapa kali bekerja sama dengan label-label di sana. Dan mereka juga udah nanyain kapan album yang akan datang ini untuk dirilis di sana.

Apa harapan Mondo dalam waktu dekat ini?

Doain agar albumnya cepet kelar dan segera launching albumnya.

Exclusive: Dubyouth Soundsystem

ment

Sudah 10 tahun eksistensi Dubyouth Soundsystem di dunia musik Indonesia. Baca wawancara exclusive mod-o tentang apa saja yang telah mereka lalui dan project terbaru mereka.

Di tahun ke 10-nya Dubyouth, apa semua cita-cita sudah tercapai semua?

Terima kasih buat wawancaranya.

Kalau dibilang sudah tercapai semua, tentu belum bisa. Pasti ada saja keinginan ini dan itu, tapi kami bersyukur atas pencapaian kami sejauh ini.

Ada rencana apa nih untuk merayakan #10YearsOfBass? Kalau liat di social media, ada hashtag #10MilliRemix ya? Boleh diceritain sedikit?

Ada beberapa rencana di ulang tahun Dubyouth yang ke-10 ini. Salah satunya #10MilliRemix, sebuah kontes remix yang bertujuan mengedukasi para pendengar dan fans kami, dan juga untuk memunculkan bibit-bibit baru produser musik elektronik.

Setelah berkiprah selama ini dalam dunia musik, pengalaman berharga apa aja yang udah kalian dapetin lewat Dubyouth?

Cukup banyak. Yang paling berkesan tentunya bisa tur di Eropa (Paris dan Berlin), berkolaborasi dengan 6Blocc (Produser Snoop Lion), dan bisa bekerja sama dengan banyak musisi baik dari Jogja, musisi nasional yang lain, dan juga internasional.

Back to basic question, sebenernya apa sih visi Dubyouth pas awal dibentuk?

Visi? Hmmm… Dubyouth terbentuk benar-benar karena iseng dan karena kami suka party. Kalau mau lebih serius, kami suka bereksperimen dengan musik elektronik, bass music khususnya.

Seberapa besar peran kota Yogyakarta dalam karir bermusik kalian?

Cukup besar. Dalam hal bermusik, Jogja mengajarkan kami untuk tidak takut bereksperimen, jadi beda, jadi diri sendiri, dan santai. 😉

Sejauh ini Dubyouth banyak berkolaborasi dengan musisi-musisi lain dalam berkarya. Apa yang melandasi hal tersebut? Siapa artist/musisi yang belum kesampaean untuk diajak kerjasama?

Kami selalu terbuka untuk bekerja sama/berkolaborasi dengan siapa saja. Hal tersebut adalah tantangan tersendiri bagi kami . Bagaimana ketika musik kami harus berpadu dengan hiphop, reggae, rock, pop bahkan mungkin dangdut. Sesuatu yang sulit untuk dibayangkan itulah yang justru menjadi hal menarik bagi kami.

Rilisan dalam bentuk fisik sedang nge-trend lagi nih, apakah kalian ada rencana untuk merilis karya dalam bentuk fisik? Dubyouth punya rencana besar apa aja nih ke depan?

Tentu, ke depannya kami berencana merilis vinyl di www.doggyhouserecords.com

Okay, thank you  for the interview, any last words for all music enthusiast?

Keep dancing and keep on moving!

 

Exclusive: Elephant Kind

Elephant Kind adalah band pop-rock asal Jakarta yang dibentuk oleh Bam Mastro saat dia berkuliah di Western Australian Academy of Performing Arts. Bam mulai dikenal saat menjadi produser untuk Neonomora, dari situlah dia bertemu dengan Bayu Adisapoetra, John Patton, dan Dewa Pratama yang akhirnya bergabung di Elephant Kind. Pada November 2014, mereka merilis album yang berjudul ‘Scenarios a Short Film by Elephant Kind’.

Sudah berapa lama sih Elephant Kind terbentuk?
Elephant Kind sebentar lagi satu tahunan di akhir April. Kalo pacaran lagi mesra mesranya. Haha. Sebenernya sih udah lebih dari itu, Elephant Kind udah diawalin dari projek skripsi gw dari tahun 2013 awal. Tapi as a band satu tahun.

Apakah pengalaman kalian sekolah di Australia juga memberikan pengaruh dalam warna musik band kalian? Dan apakah teman-teman kalian di sana juga turut membantu dalam mempromosikan musik kalian secara internasional?
Sebenernya yang sekolah di Australia cuman gue aja. Waktu itu gw di ECU dan WAAPA, gw ngambil music technology. I spent more than half of my life overseas, travelling around with my family. I get to see tons of different culture and I think that’s how Elephant Kind’s music was formed and Australia really inspired me as an artist, especially Perth. Teman-teman juga banyak yang bantu karena mereka sangat sangat supportive sama apa yg gw lakuin sebelumnya di Australia. Gw juga udah ada band dan mereka udah mulai mensupport dari situ.

Siapa musisi yang menjadi pengaruh besar dalam karya bermusik Elephant Kind?
Kalo ditanya siapa mungkin yang paling berpengaruh besar adalah orang-orang di sekitar kita selama ini. Mereka yang ngasih kita perspektif hidup yang beragam-ragam yang menjadikan itu musik Elephant Kind. Musically non of us listen to the same style of music. We rarely share things in common in music. Kita selalu main bareng, jalan bareng, brothers from another mothers banget, tapi dengerin lagu bareng-bareng is not something that we do. I don’t know how we became a band, but it happened. We do share the same visions.

Kalian kan mulai terkenal nih di scene musik Jakarta, ada pengalaman manggung yang unik gak sampai saat ini?
Oiya? Mulai terkenal? Thank God. Semoga terkenalnya baik, ya… haha. Pengalaman unik pas manggung di Singapore sih, itu pertama kali kita manggung di luar Jakarta tercinta ini. Karena banyak banget tourists, jadi selesai manggung banyak yang datengin kita bawa CD dan kita selalu nanya nama orangnya pas CD signing dan namanya banyak yang susah untuk dieja jadi kita suka salah tulis. I thought it’s funny.

Apa yang menjadi inspirasi dalam pembuatan EP kalian ‘Scenarios: A Short Film by Elephant Kind’?
Kita tuh seperti banyak orang di luar sana suka nonton film. Kita juga sebenernya punya mimpi bikin film tapi karna kita belom punya knowledge sebanyak itu untuk bikin film ya kita bikin album musik bernuansa film. Story telling. Seperti bed time story yang kita denger dari orang tua kita pas masih kecil jadi kita bayangin sendiri visualnya. Plus I’m a fan of contemporary poetry and spoken words kaya Charles Bukowski so the lyrics have a few profenity in it dan juga ada nuansa contemporary poetry and spoken words.

Deskripsikan musik Elephant Kind dalam 3 kata.
“Some Gangsta Shit!” Haha that’s the best I can do.

Rencana dalam waktu dekat ini? Tur internasional/nasional?
Kita mau release next EP judulnya Promenades which is prequel EP pertama kita, dan kita juga lagi mengerjakan film dan semoga bisa tour nasional internasional dan lainnya. Doain aja lancar, ya.

Exclusive: Ras Muhamad

Di sela-sela kesibukannya mempersiapkan video clip dari leading single di album ‘Salam’, Ras Muhamad “The Reggae Ambassador of Indonesia”,menyempatkan diri untuk bercerita kepada mod-o mengenai pengalamannya sebagai Reggae Ambassador dan rencana tour mendatangnya di Jamaika.

Album ‘Salam’ tahun lalu dirilis dalam bentuk digital, bakal rilis dalam bentuk lain juga, gak?
Iya, untuk album ‘Salam’ bakal gue rilis dalam bentuk fisik, karena fan base di Indonesia sendiri ternyata kurang digital oriented untuk membeli album, jadi mereka lebih suka beli dalam bentuk fisik. Rencananya bakal dirilis di akhir April atau awal Mei.

Bagaimana pengalaman tour di luar tanah air?

Timor Leste
Komunitas reggae di sana cukup besar dan mereka mengadakan festival reggae setiap tahunnya. Saat kemarin gue diundang, itu merupakan acara yang kedua kalinya. Acara tersebut di-support oleh Kementrian Pemuda dan Olah Raga Timor Leste.

Kamboja
Untuk tur di Kamboja ini, ada DJ yang bernama Kaztet Dee, dia orang Perancis tapi sudah menetap di Kamboja. Intinya, dia ingin membuat sebuah gelombang / movement  di Kamboja untuk musik reggae. Dia excited banget gue ke sana untuk bekerja sama dengan movement-nya, karena dia melihat bahwa gue adalah salah satu tokoh reggae di Asia Tenggara, jadi bisa lebih mudah untuk memperkenalkan musik reggae dengan wajah Asia. Di sana kita tur di 4 kota, Siam Reap, Phnom Penh, Otres Beach, Kampot, dan extend ke Bangkok.

Dalam waktu dekat ini ada tour lagi?
28 Maret ini gue akan tour ke Jamaika, nanti di sana gue akan perform di Kingston.

Apakah ini pertama kalinya perform di Jamaika?
Kalau secara fisik ini pertama kali, tapi secara spiritual dan musik hampir setiap hari hahaha.

Untuk kolaborasi sepertinya sangat terbuka ya sebagai musisi? Ada rencana kolaborasi saat di Jamaika nanti?

Gue selalu terbuka dengan siapa pun untuk kolaborasi, terutama dengan genre di luar reggae. Tapi nanti di sana gue bakal shoot video klip untuk lagu Farmerman yang berkolaborasi dengan Naptali.

Sebagai Reggae Ambassador dari Indonesia, misi apa yang dibawa ke sana?
Salah satu misinya yang pasti adalah memperkenalkan Indonesia secara budaya, karena masih banyak orang Jamaika yang belum tahu Indonesia itu di mana. Dan gue juga mau agar karya bangsa Indonesia terdengar. Karena Jamaika sendiri penduduknya aja gak sampai 3 juta, tapi mereka bisa mempengaruhi banyak orang melalui musik dari genre pop, jazz, electro dengan tetap mengambil elemen-elemen dari budaya Jamaika. Mereka yang rakyatnya lebih sedikit dari Indonesia, kenapa bisa memberikan pengaruh sampai segitunya? Kita yang jumlah rakyatnya bejibun, kenapa gak kedengeran?

Ada dua sisi misi yang gue bawa ke sana, yang pertama untuk promotor musik supaya mau mendatangkan musisi-musisi Jamaika ke Indonesia, karena massa reggae itu sangat besar di Indonesia. Kedua, bahwa reggae itu tidak stagnan dengan Bob Marley. Sekarang sudah banyak musisi-musisi reggae yang bagus seperti teman-teman gue Chronixx dan Kabaka Pyramid.

 

Oke, Ras. Thanks untuk waktunya. Good luck on your tour and looking forward to hear more great news from you.